Khamis, 23 September 2010

BELAJAR AGAMA PERLU ELAKKAN DARI FANATIK DAN TAKSUB, SEBALIKNYA BERLAPANG DADA YANG PENTING.




BELAJAR AGAMA PERLU ELAKKAN DARI FANATIK DAN TAKSUB, SEBALIKNYA BERLAPANG DADA YANG PENTING.

Imam Abu Hanifah

Imam mazhab yang pertama adalah Abu Hanifah Nu'man bin Tsabit. Para muridnya telah meriwayatkan berbagai macam perkataan dan pernyataan beliau yang seluruhnya mengandungi satu tujuan, yaitu kewajipan berpegang kepada Hadis Nabi SAW dan meninggalkan sikap taklid pendapat-pendapat para imam bila bertentangan dengan hadis Nabi SAW. Ucapan beliau:

"Jika terdapat Hadis Sahih, itulah mazhabku."

"Tidak halal bagi seseorang mengikuti perkataan kami bila ia tidak tahu dari mana kami mengambil sumbernya."

Pada riwayat lain dikatakan bahawa beliau mengatakan: "Orang yang tidak mengetahui dalilku, haram baginya menggunakan pendapatku untuk memberikan fatwa." Pada riwayat lain ditambahkan: "kami hanyalah seorang manusia. Hari ini kami berpendapat demikian tetapi besok kami mencabutnya." Pada riwayat lain lai dikatakan: "Wahai Ya'Qub (Abu Yusuf), celakalah kamu! janganlah kamu tulis semua yang kamu dengar dariku. Hari ini saya berpendapat demikian, tapi esok saya meninggalkannya. Besok saya berpendapat demikian, tapi hari berikutnya saya meninggalkannya."

"Kalau saya mengemukakan suatu pendapat yang bertentangan dengan Al-Quran dan Hadis Nabi SAW, tinggalkanlah pendapatku itu."

Imam Malik bin Anas

Imam Malik berkata: "Saya hanyalah seorang manusia, terkadang salah, terkadang benar. Oleh kerana itu, telitilah pendapatku. Bila sesuai dengan Al-Quran dan Sunnah, ambillah; dan bila tidak sesuai dengan Al-Quran dan Sunnah, tinggalkanlah." "Siapa pun perkataannya bisa ditolak dan bisa diterima, kecuali hanya Nabi SAW sendiri.

Imam Syafie

Riwayat-riwayat yang dinukil orang dari Imam Syafie dalam masalah ini lebih banyak dan lebih bagus, dan para pengikutnya lebih banyak yang melaksanakan pesananya dan lebih beruntung. Beliau berpesan antara lain: "Setiap orang haris bermazhab kepada Rasulullah dan mengikutinya. Apa pun pendapat yang aku katakan atau sesuatu yang aku katakan itu berasal dari Rasulullah tetapi ternyata berlawanan dengan pendapatku, apa yang disabdakan oleh Rasulullah itulah yang menjadi pendapatku." "Seluruh kaum Muslim telah sepakat bahawa orang yang secara jelas telah mengetahui suati Hadis dari Rasulullah tidak halal meninggalkannya guna mengikuti pendapat seseorang." "Bila kalian menemukan dalam kitabku sesuatu yang berlainan dengan Hadis Rasulullah, peganglah Hadis Rasulullah itu dan tinggalkanlah pendapatku itu." "Bila suati hadis itu Sahih, itulah mazhabku." "Kalian lebih tahu tentang Hadis dan para rawinya daripada aku. Apabila suati Hadis itu Sahih, beri tahukanlah kepadaku biar di mana pun orangnya, apakah di Kuffah, Basrah, atau Syam, sampai aku pergi menemuinya." "Bila suatu masalah ada Hadisnya yang sah dari Rasulullah SAW menurut kalangan ahli Hadis, tetapi pendapatku menyalahinya, pasti aku akan mencabutnya, baik selama aku hidup maupun setelah aku mati." "Bila kalian mengetahui aku mengatakan suatu pendapat yang ternyata menyalahi Hadis Nabi yang Sahih, ketahuilah bahawa hal itu bererti pendapatku tidak berguna." "Setiap perkataanku bila berlainan dengan riwayat yang Sahih dari Nabi SAW, Hadis Nabi lebih utama dari kalian jangan bertaqlid kepadaku." "Setiap Hadis yang datang dari Nabi SAW berarti itulah pendapatku, sekalipun kalian tidak mendengarnya sendiri dari aku."

Imam Ahmad bin Hanbal

Ahmad bin Hambal merupakan seorang imam yang paling banyak menghimpun Hadis dan berpegang teguh kepadanya, sehingga beliau benci menjamah kitab-kitab yang memuat masalah furu' dan ra'yu. Beliau mengatakan sebagai berikut: "Janganlah engkau taqlid kepadaku atau kepada Malik, Syafie, Auza'i, dan Tsauri, tetapi ambillah dari sumber mereka mengambil." "Pada riwayat lain disebutkan: "Janganlah kamu taqlid kepada sesiapa pun dari mereka dalam urusan agamamu. Apa yang datang dari Nabi SAW dan para sahabatnya, itulah hendaknya yang kamu ambil. Adapun tentang tabi'in, setiap orang boleh memilihnya (menolak atau menerima)." Kali lain dia berkata: "Yang dinamakan ittiba' yaitu mengikuti apa yang datang dari Nabi SAW dan para sahabatnya, sedangkan yang datang dari para Tabi'in boleh dipilih." "Pendapat Auza'i, Malik, dan Abu Hanifah adalah ra'yu (pikiran), Bagi saya semua ra'yu sama saja, tetapi yang menjadi hujjah agama adalah yang ada pada atsar (Hadis)." "Barangsiapa yang menolak Hadis Rasulullah SAW, dia berada di jurang kehancuran."
Demikianlah pernyataan para imam dalam menyuruh orang untuk berpegang teguh pada Hadis dan melarang mengikuti mereka tanpa sikap kritis. Pernyataan mereka itu sudah jelas tidak bisa dibantah dan diputarbelitkan lagi. Mereka mewajibkan berpegang pada semua Hadis yang Sahih sekalipun bertentangan dengan sebagian pendapat mereka tersebut dan sikap semacam itu tidak dikatakan menyalah mazhab mereka dan keluar dari kaedah mereka, bahkan sikap itulah yang disebut sebagai mengikuti mereka dan berpegang pada tali yang kuat yang tidak akan putus. Akan tetapi, tidaklah demikian halnya bagi seseorang meninggalkan Hadis-hadis yang sahih kerana dipandang menyalahi pendapat mereka. Bahkan orang yang berbuat demikian telah derhaka kepada mereka dan menyalahi pendapat-pendapat mereka yang telah dikemukakan di atas, Allah berfirman:

"Demi Tuhanmu, mereka itu tidak dikatakan beriman sehingga mereka menjadikan kamu sebagai hakim dalam menyelesaikan sengketa di antara mereka, kemudian mereka tidak keberatan terhadap keputusanmu dan menerimanya dengan sepenuh ketulusan hati." (An-Nisa' 4:65) Allah juga berfirman: "Orang-orang yang menyalahi perintahnya hendaklah takut fitnah akan menimpa mereka atau azab yang pedih akan menimpa mereka. (An-Nur 24:63).
Sumber : www.muawiyah90.blogspot.com/search/label/Pendapat

Jumaat, 17 September 2010

Soal Jawab Agama : Dakwaan Syiah Bahawa Al-Quran tidak lengkap

Soal Jawab Agama : Dakwaan Syiah Bahawa Al-Quran Tidak Lengkap

Salam

1) Benarkah ada dakwaan yang mengatakan bahawa Al-Quran yang dipegang oleh pihak sunni tidak selengkap Al-Quran pihak Syiah? Berdosa besar atau murtadkah kita sekiranya Al-Quran yang dipegang oleh puak Syiah itu sebenar-benarnya wahyu Al-Quran sedangkan puak sunni seperti tidak mengakuinya?

*************
Panel Feqh
wa'alaikumussalam

Alhamdulillah. Kami akan cuba menjawab soalan sdr mie dengan kadar kemampuan yang ada, Insyaallah.

Soalan 1 : Benarkah ada dakwaan yang mengatakan bahawa Al-Quran yang dipegang oleh pihak sunni tidak selengkap Al-Quran pihak Syiah?

Benar, ada dikalangan puak2 Syiah ini mendakwa bahawa al-Quran yang ada pada tangan orang2 Islam sekarang ini tidak lengkap dan terdapat juga beberapa ayat2 yang telah diubah2. Malah, mereka mengatakan yang ada cuma 1/3 sahaja. Ini bererti puak2 Syiah ini kehilangan 2/3 al-Quran!

Dakwaan2 ini boleh dilihat didalam Kitab2 hadith mereka, al-Kafii fi Ushul, mengetengahkan sebuah riwayat dari Abu Bushair yang mengatakan sebagai berikut:

"Pada suatu hari aku datang ke rumah Abu 'Abdullah a.s. Kukatakan kepadanya: "Aku ingin menanyakan suatu persoalan, tapi apakah ada orang lain yang mendengarkan kata-kataku?" Abu Abdullah kemudian mengangkat sebuah aling-aling yang memisahkan rumahnya dari rumah orang lain. Setelah melihat-lihat sebentar ia berkata: "Tanyakanlah apa yang kau inginkan!" Aku mulai bertanya: "Para pengikut anda mengatakan bahwasanya Rasul Allah saw mengajarkan kepada Ali suatu Bab yang dapat membuka seribu Bab (yakni: mengajarkan suatu ilmu yang melahirkan seribu cabang ilmu). Benarkah itu?" Abu Abdullah menjawab: "Ya, Rasul Allah telah mengajar Ali seribu Bab yang masing-masing Bab-nya melahirkan seribu Bab." Aku berkata kagum: "Demi Allah itulah ilmu!" "Hai Abu Muhammad (nama panggilan Abu Bushair), kami mempunyai sebuah jami'ah (kumpulan ayat-ayat Al Qur'an), tahukah engkau apakah jami'ah itu" Aku menyahut: "Tak tahulah aku." Abu Abdullah menerangkan: "Sebuah Shahifah (kitab) panjangnya 70 hasta Rasul Allah saw, diimla'kan (catat) kepada Ali dari ucapan beliau dan ditulis oleh Ali dengan tangan kanannya. Di dalamnya terdapat segala hukum mengenai yang halal dan yang haram serta segala sesuatu yang perlu diketahui oleh ummat manusia, sampai soal mengenai kulit lecet." Ia lalu menyentuhkan tangannya pada badanku, sambil berkata: "Kulit yang lecet ini pun ada hukumnya!" Aku menyahut: "Demi Allah, itu benar-benar ilmu!" Ia berkata: "Ya, itu ilmu yang tiada taranya!" Ia diam beberapa saat, kemudian ia berkata: "Kami mempunyai Jafar, tahukah engkau apa arti Jafar?" Aku balik bertanya: "Apakah yang dimaksud dengan Jafar?" Abu Abdullah menerangkan: "Jafar adalah sebuah wadah dari kulit. Di dalamnya terdapat ilmu para Nabi, para penerima wasiat Nabi, dan ilmu para pendeta Bani Israil pada masa dahulu." Aku menanggapi: "Itulah ilmu!" Ia menyahut: "Itu memang ilmu yang tiada taranya!" Ia diam lagi beberapa saat, kemudian berkata lebih lanjut: "Kami mempunyai Mushhaf (Qur'an) Fatimah?" Aku balik bertanya: "Apakah Mushhaf Fatimah itu?" Ia menjawab: "Mushhaf yang berisi tiga kali lebih banyak dari Qur'an kalian! Tetapi demi Allah, tak ada satu huruf pun yang dicantumkan dalam Qur'an kalian ... dan seterusnya." ["Al Kafii Fil Ushul" Kitab Al Hujjah Bab yang menyebut soal-soal Shahifah, Jafar, Jami'ah dan Mushhaf Fatimah, hal. 239, 240, 241, Jilid I, Cetakan Teheran]

Banyak sekali hadith2 khayalan dan rekaan mereka yang menyokong hakikat al-Quran tidak lengkap dan ia mengalami perubahaan. Kesemua hadith2 ini kita tidak akan berjumpa didalam kitab Shahih Imam2 Bukhari, Muslim, Tirmudzi, Abu Daud dll.

Didalam Kitab Al Kafii Fil Ushul juga menceritakan bahawa jumlah ayat2 al-Quran adalah berjumlah 17,000, sebagaimana riwayat :-.

"Dari Hisyam bin Salim, ia menerimanya dari Abu 'Abdullah as. yang mengatakan: "Al Qur'an yang dibawa malaikat Jibril kepada Muhammad saw terdiri dari tujuh belas ribu ayat." ["Al Kafii Fil Ushul" Kitab Fadhul Qur'an, Bab Nawadir, hal. 634 Jilid II, Cetakan Teheran 1381H]

Yang ada pada tangan orang Islam sekarang adalah kompilasi yang penuh dengan pendustaan belaka, kecuali yang di kumpul dan disimpan oleh Ali ra. Demikianlah 2 contoh dakwaan puak Syiah Rafidah.

Hakikatnya :

Terdapat 3 pembahagian pandangan ulama' Syiah berkenaan dengan al-Quran :-

1. Terdapat banyak riwayat2 Syiah yang mengatakan bahawa al-Quran telah diubah.
2. Ada dikalangan ulama' Syiah Rafidah mengumumkan bahawa al-Quran tidak lengkap.
3. Ada dikalangan ulama' Syiah Rafidah ingkar bahawa al-Quran diubah secara taqqiyah (pembohongan untuk menyelamatkan diri) dan bukan secara hakikat.

Apabila dilihat dari segi pandangan ulama' mereka terhadap al-Quran sahaja sudah jelas menunjukkan wujudnya sesuatu kekeliruan yang amat besar! Ulama2 Islam selain dari Syiah tidak pernah meragui akan lengkapnya al-Quran, mereka sepakat akan terpeliharanya al-Quran yang ada, sebagaimana Allah swt menjamin bahawa al-Quran akan sentiasa terpelihara (lihat surah al-Hijr ayat 9 dibawah).

Dengan mengamalkan taqqiyah, ulama2 Syiah membenarkan orang Syiah menggunakan al-Quran yang ada pada orang2 Islam sekarang sementara menunggu kedatangan al-Quran mereka. Realitinya mereka masih tidak berjumpa dengan al-Quran yang dikatakan mempunyai 17,000 ayat.

Realitinya menurut Syeikh Dr. Yusuf al-Qaradhawi mereka masih menggunakan al-Quran yang dipakai oleh ahli Sunnah tetapi tidak mengakui menggunakannya. Syeikh al-Qaradhwi menggaris 5 contoh realiti yang ada :-

1
ـ أنهم جميعا متفقون على أن ما بين دفتي المصحف كله كلام الله، الذي لا يأتيه الباطل من بين يديه ولا من خلفه.
2- أن المصحف الذي عند الشيعة في كل العالم اليوم هو: المصحف الذي يوجد عند أهل السنة، فالمصحف المطبوع في إيران هو نفسه المطبوع في السعودية وفي مصر وفي باكستان والمغرب وغيرها من بلاد العالم الإسلامي.
3- أن هذا القرآن ـ الذي يدعي البعض تحريفه ـ هو الذي يفسره مفسرو الشيعة من قديم إلى اليوم، لا يوجد قرآن غيره يقومون بتفسيره، وهو الذي يتحدثون عن بلاغته وإعجازه إلى اليوم.
4- أن هذا القرآن هو الذي يستدلون به على معتقداتهم في كتبهم العقائدية، وهو الذي يحتجون به على الأحكام في كتبهم الفقهية.
5- أن هذا القرآن هو الذي يعلمونه لأولادهم في المدارس الدينية والحكومية، وعلى شاشات التلفاز وغيرها.
"1. Mereka semua bersetuju diantara dua sudut bahawa al-Quran itu kesemuanya adalah Kalam (Perkataan) Allah, yang tidak datang ditangannya kebatilan dan tidak dari belakang.

2. Sesungguhnya al-Quran yang ada disisi orang2 Syiah diseluruh dunia adalah : al-Quran yang berada di tangan ahli Sunnah (Sunni), iaitu al-Quran yang dicetak di Iran sendiri, di Arab Saudi, Mesir, Pakistan, Maghribi dan lain2 dunia Islam.

3. Sesungguhnya al-Quran ini - yang didakwa terdapat beberapa perubahan - iaitu yang ditafsir oleh ulama2 tafsir Syiah yang terdahulu hingga kini, tidak ada al-Quran lain yang membawa tafsiran tersebut, dan merekalah yang bercakap mengenai balaghah dan 'ijaznya sehingga kini. (kamin :- ada dikalangan pentafsir mereka masih memuji kelebihan al-Quran yg ada).

4. Al-Quran inilah yang menjadi buku ideologi mereka, dan kitab inilah mereka ambil darinya hukum2 sebagaimana didalam kitab2 fiqh mereka.

5. Al-Quran inlah yang terdapat di Sekolah2 Agama dan Sekolah2 Kerajaan, di kaca TV dan lain2nya."

Persoalan : kenapa masih ingin berdalih lagi???????

==========
Soalan 2 : Berdosa besar atau murtadkah kita sekiranya Al-Quran yang dipegang oleh puak Syiah itu sebenar-benarnya wahyu Al-Quran sedangkan puak sunni seperti tidak mengakuinya?

Ini merupakan persoalan aqidah. Kita tidak boleh meragui langsung al-Quran yang ada sekarang! Ini adalah pegangan ahli Sunnah....Tidak timbul perkataan 'mungkin', atau 'sekiranya' dakwaan mereka benar.

Sikap kita

a. Kita wajib beriman bahawa al-Quran yang ada sekarang lengkap! Kita tidak boleh meragui langsung akan lengkapnya al-Quran, kerana Allah swt sendiri menjaga al-Quran tersebut. Firman Allah swt :-

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ


"Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Quran dan Kamilah yang memelihara dan menjaganya." [Surah al-Hijr : 9]

إِنَّ عَلَيْنَا جَمْعَهُ وَقُرْآنَهُ. فَإِذَا قَرَأْنَاهُ فَاتَّبِعْ قُرْآنَهُ. ثُمَّ إِنَّ عَلَيْنَا بَيَانَهُ.


"Sungguh, Kamilah yang akan mengumpulkannya (ayat-ayat Al Qur'an) dan membacakannya, maka apabila telah Kami bacakan ikutilah pembacaannya, kemudian Kamilah yang akan menjelaskannya." [Al Qiyamah: 17,18, 19]

لَا يَأْتِيهِ الْبَاطِلُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَلَا مِنْ خَلْفِهِ تَنْزِيلٌ مِنْ حَكِيمٍ حَمِيدٍ
"Tidak disentuh oleh kebatilan dari depan ataupun dari belakang (secara terang-terangan ataupun secara samar-samar). Ia (Al Qur'an) diturunkan oleh Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji." [Fushshilat: 42]

b. Kita percaya bahawa Al-Quran berada di hati sahabat2 yang menghafalnya, ia ditulis di pokok2, batu2 putih sehinggalah ke zaman Khalifah Abu Bakar al-Siddiq ra. Semasa perang Riddah, ramai dikalangan sahabat2 yang menghafal al-Quran telah mati, maka Abu Bakar ra. khawtir akan hilangnya al-Quran. Dia berbincangkdengan para2 sahabat yang lain mengenai cadangan mengumpulkan keseluruhan al-Quran menjadikan satu buku. Tanggung jawab tersebut diserahkan kepada al-hafiz besar Zayd ibn Thaabit yang menulis al-Quran tersebut. Riwayat ini terdapat didalam Kitab Shahih Bukhari. Kitab al-Quran ini ada pada Abu Bakar sehinggalah beliau mati, berada ditangan Umar ra sehingga sepanjang hidupnya dan kemudian kepada Hafsah bt Umar ra.
=========

Kesimpulannya memang terdapat dikalangan puak Syiah yang mendakwa bahawa al-Quran yang ada tidak lengkap dan telah ditukar. Akan tetapi dikalangan mereka juga berselisih pandangan mengenai al-Quran tersebut. Sehingga kini, mereka masih lagi menggunakan al-Quran yang ada pada seluruh umat Islam. Mereka cakap sahaja bahawa al-Quran tidak lengkap dan telah diubah, akan tetapi pada realitinya, tidak wujud langsung dakwaan mereka. Kita wajib beriman bahawa inilah al-Quran yang telah lengkap, yang telah dikumpulkan oleh Abu Bakar al-Siddiq ra. Tidak boleh ragu2 akan lengkapnya al-Quran. WA.

wassalam

sumber: http://qaasasaqidahtauhid.blogspot.com/2009/01/dakwaan-syiah-al-quran-tak-lengkap.html

Rabu, 1 September 2010

Ada Apa Dengan Wahabi


ADA APA DENGAN WAHABI

MARI KITA BERBINCANG DALAM SUASANA YANG AMAN DAN ILMIAH, APAPUN SILA BACA DULU ARTIKEL DI BAWAH, JIKA ADA SEBARANG PERSOALAN KITA BOLEH BERBINCANG.

Bulan November 2010 ini genaplah empat tahun laporan muka utama sebuah akhbar perdana tempatan yang berjudul “Fahaman Wahabi Menular”. Kebanyakan kenyataan dalam laporan tersebut adalah tidak tepat sebagaimana yang telah dijelaskan oleh sahabat saya, Mohd. Yaakub bin Mohd. Yunus dalam bukunyaFahaman Wahabi Menular: Satu Analisis Terhadap Dakwaan Yang Ditimbulkan Oleh Akhbar Utusan Malaysia terbitan Jahabersa, Johor Bahru, 2006. Namun ada dua kenyataan yang boleh dikatakan tepat:


* Pertama: Laporan tersebut menyatakan bahawa fahaman Wahabi sedang menular. Ini tepat, bahkan yang lebih jitu adalah fahaman Wahabi memang sungguh-sungguh sedang menular. Ia seumpama arus tsunami yang menenggelamkan pelbagai fahaman, pengaruh, jamaah dan aliran lain yang ada di Malaysia.

* Kedua: Laporan tersebut menyatakan bahawa fahaman Wahabi mendapat tempat di kalangan cerdik pandai umat Islam. Ini tepat, tetapi realiti masa kini membuktikan bahawa fahaman Wahabi juga sudah mendapat tempat di kalangan mereka yang berada dalam pelbagai lapisan dan latarbelakang.

Apa Dan Kenapa Wahabi?

Saya biasa ditanya, apakah fahaman Wahabi? Jawapan saya mudah sahaja: “Ia adalah pemikiran dan amalan Islam berdasarkan dalil dan hujah yang berbeza dengan kebiasaan masyarakat”. Soalan seterusnya, kenapa fahaman Wahabi mendapat tempat secara meluas di kalangan umat Islam? Terdapat beberapa jawapan bagi persoalan ini:

Pertama: Fahaman ini memandang Islam sebagai suatu agama yang berdasarkan ilmu. Oleh itu ia tidak membicarakan Islam melainkan dengan metodologi ilmiah yang tinggi lagi berdisiplin. Fahaman ini menolak bicara Islam yang berdasarkan mitos, khayalan, cerita-cerita dongeng dan apa-apa yang seumpama. Dalam suasana umat Islam yang semakin meningkat taraf keilmuannya, mereka mula beralih kepada Islam yang berdasarkan ilmu, yakni dalil dan hujah.

Kedua: Fahaman ini meningkatkan lagi penghayatan umat Islam terhadap agama Islam. Jika sebelum ini umat hanya mengenal Islam berdasarkan hafalan “fardhu ain”, kini umat mula mengenal Islam berdasarkan dalil dan hujah. Umat Islam mula mengenal kenapa mereka beribadah dengan tatacara sekian-sekian, hikmah di sebalik sesuatu ibadah, tujuan di sebalik sesuatu hukum dan objektif yang ingin dicapai oleh syari’at kepada manusia.

Ketiga: Fahaman ini memberi penekanan kepada usaha tajdid, iaitu usaha membersihkan agama Islam dari pelbagai pencemaran sehingga ia kembali tulen. Ketulenan ini adalah sesuatu yang benar-benar asing kepada masyarakat sehingga mereka menganggap ia adalah sesuatu yang baru, sekali pun ia sebenarnya sudah wujud sejak lebih 1400 tahun yang lalu. Usaha tajdid memberi nafas baru kepada umat Islam. Mereka mula melihat keindahan, kemudahan dan kesyumulan Islam sebagaimana yang dilihat oleh generasi pertama yang menerimanya secara tulen daripada Rasulullah s.a.w..

Keempat: Fahaman ini menyentuh isu-isu terkini lagi relevan dengan suasana umat Islam. Sebagai contoh, apabila fahaman yang lain masih memberi perhatian kepada hukum berwudhu’ dengan air perigi, fahaman ini memberi perhatian kepada hukum berwudhu’ dalam kapalterbang. Apabila fahaman lain memberi perhatian kepada cara berzikir di atas pokok, fahaman ini memberi perhatian kepada cara beribadah di atas kenderaan moden seperti LRT, Monorail, Komuter dan sebagainya. Oleh itu tidak asing juga apabila didapati antara yang kehadapan dalam menangani isu-isu liberalisme, pluralisme, feminisme dan athiesisme adalah tokoh-tokoh yang disandarkan kepada fahaman ini.

Kelima: Fahaman ini tidak membataskan ahli-ahlinya kepada jamaah tertentu. Tidak ada sistem mendaftar keahlian, berbai’ah kepada amir, perlantikan ahli jawatan kuasa tahunan dan lain-lain yang biasa ditemui dalam jamaah-jamaah Islam. Seseorang itu boleh sahaja mengikuti fahaman ini dan pada waktu yang sama terus bergiat aktif dengan jamaah yang dianggotainya. Hanya saja fahaman ini mengingatkan umat Islam agar membetulkan tujuan mereka bergiat aktif di dalam sesuatu jamaah. Hendaklah tujuan tersebut demi kebaikan Islam dan umatnya, bukan demi memelihara maruah jamaah dan menjaga kedudukannya sebagai yang terbaik berbanding jamaah-jamaah yang lain.

Di Mana Salahnya Fahaman Wahabi?
Secara umum, tidak ada yang salah dengan fahaman Wahabi kecuali namanya. Memang, ada segelintir orang yang mengikuti fahaman ini dengan semangat yang mendahului ilmu dan kematangan sehingga mereka berlebih-lebihan dalam mengkritik dan mencela. Namun tindakan segelintir tidak boleh dijadikan hujah untuk menghitamkan keseluruhan fahaman ini dan majoriti yang mengikutinya berdasarkan ilmu dan kematangan.

Fahaman Wahabi bukanlah sesuatu yang asing dalam Islam atau terkeluar dari Ahl al-Sunnah wa al-Jama'ah. Malah ia lebih mendekati Islam yang sebenar dan Ahl al-Sunnah wa al-Jama'ah yang tulen. Terkecuali adalah nama “Wahabi” yang disandarkan kepada fahaman ini, ia adalah nama yang sengaja digunakan oleh sebahagian agamawan sebagai senjata untuk menakutkan orang ramai dan menjauhkan mereka daripada fahaman yang murni ini. Kenapakah perlu ditakut dan dijauhkan orang ramai daripada fahaman ini? Paling kurang ada dua sebab utama:
Sebab Pertama: Apabila fahaman ini membicarakan Islam berdasarkan metodologi ilmiah, akan terbongkar kesilapan, kedongengan dan kepalsuan apa yang selama ini disampaikan oleh para agamawan tersebut. Dalam menghadapi suasana ini, para agamawan terbahagi kepada dua kategori:

* Pertama adalah mereka yang bekerjaya dalam jurusan agama berdasarkan sikap jujur lagi amanah. Mereka membetulkan apa yang pernah disampaikan sebelum ini seandainya ia sememangnya tidak tepat.
* Kedua adalah mereka yang bekerjaya dalam jurusan agama kerana maruah dan status. Mereka sukar untuk mengakui bahawa apa yang mereka sampaikan sebelum ini adalah tidak tepat. Maka mereka mencari helah untuk menakutkan orang ramai dan menjauhkan mereka dari kebenaran tersebut. Helah tersebut adalah: “Berhati-hatilah dengan fahaman Wahabi kerana ia terkeluar dari Ahl al-Sunnah wa al-Jama'ah……”

Sebab Kedua: Fahaman ini benar-benar mendapat sambutan daripada umat Islam sehingga kuliah-kuliah pimpinan tokohnya dibanjiri oleh hadirin dari pelbagai latarbelakang. Suasana ini bertolak belakang dengan kuliah-kuliah lain yang semakin lengang sehingga akhirnya dibatalkan oleh pihak penganjur. Dalam menghadapi suasana ini, sekali lagi para agamawan terbahagi kepada dua kategori:

* Pertama adalah mereka yang memiliki sikap yang positif dimana dengan sikap tersebut mereka berusaha untuk mempertingkatkan mutu kuliah yang disampaikan, selari dengan kehendak para hadirin.

* Kedua adalah mereka yang memiliki sikap yang negatif dimana mereka enggan mempertingkatkan

mutu kuliah yang disampaikan. Pada waktu yang sama mereka tidak boleh berdiam diri kerana semua ini melibatkan sumber pendapatan mereka. Dengan berkurangnya jemputan, berkuranglah juga pendapatan. Maka mereka perlu mencari helah untuk menjanakan kembali sumber pendapatan dengan berkata: “Berhati-hatilah dengan kuliah orang-orang Wahabi, mereka itu ditaja oleh pihak Barat……”
Siapa Yang Sebenarnya Salah?

Diharapkan melalui penjelasan yang ringkas di atas, para pembaca sekalian dapat mengetahui kisah sebenar di sebalik gelaran atau tuduhan “Wahabi”. Tidak percaya? Cubalah mengkaji salah satu dari kitab Mazhab asy-Syafi’e yang muktabar dan pilih satu hukum atau amalan yang berbeza dari kebiasaan masyarakat. Nescaya anda akan dituduh “Wahabi” sekalipun rujukan anda ialah kitab muktabar Mazhab asy-Syafi’e.
Di sini ingin saya tambah, bahawa yang tidak benar bukan sekadar tuduhan “Wahabi”, tetapi sikap orang yang menuduh itu sendiri adalah tidak benar. Ini kerana Islam melarang umatnya daripada tuduh-menuduh, cemoh-mencemuh dan memanggil antara satu sama lain dengan gelaran yang tidak baik. Allah s.w.t. berfirman, maksudnya:
“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah sesuatu kumpulan (dari kaum lelaki) mencemuh dan merendah-rendahkan kumpulan lelaki yang lain, (kerana) boleh jadi kumpulan yang dicemuhkan itu lebih baik daripada mereka; dan janganlah pula sesuatu kumpulan dari kaum perempuan mencemuh dan merendah-rendahkan kumpulan perempuan yang lain, (kerana) boleh jadi kumpulan yang dicemuhkan itu lebih baik daripada mereka;

Dan janganlah setengah kamu menyatakan keaiban setengahnya yang lain; dan janganlah pula kamu panggil-memanggil antara satu dengan yang lain dengan gelaran yang buruk. (Larangan-larangan yang tersebut menyebabkan orang yang melakukannya menjadi fasik, maka) amatlah buruknya sebutan nama fasik (kepada seseorang) sesudah dia beriman. Dan (ingatlah), sesiapa yang tidak bertaubat (daripada perbuatan fasiknya) maka merekalah orang-orang yang zalim.” [al-Hujurat 49:11]

Akhir kata, apabila anda mendengar seseorang berkata: “Si fulan Wahabi”, “Kumpulan itu Wahabi”, “Ini majalah Wahabi” atau apa-apa tuduhan seumpama, maka ketahuilah bahawa kesalahan tidak terletak pada yang dituduh tetapi pada yang menuduh.

Ahad, 15 Ogos 2010

Al-Maunah : Pelampau atau Pejuang? Pengajaran buat Kerajaan



Al-Maunah : Pelampau atau Pejuang?

Al-Maunah

Al-Ma'unah adalah sebuah organisasi pengganas militan di Malaysia yang terkenal dengan keberaniannya melakukan pencerobohan nekad ke atas sebuah kem Rejimen Askar Wataniah pada subuh 2 Julai 2000 dan melarikan sejumlah besar senjata api daripada stor persenjataan. Kumpulan tersebut kemudiannya mendirikan pangkalan rahsianya di kawasan hutan berhampiran perkampungan di Sauk, Negeri Perak dan terlibat dalam pertempuran di antara Angakatan Tentera Malaysia dan Polis Diraja Malaysia.

Organisasi

Nama penuh organisasi tersebut dikenali sebagai Persaudaraan Ilmu Dalam Al-Ma’unah. Laman web organisasi tersebut dikenali sebagai Al-Ma’unah dalam singkatan, sebuah pertubuhan yang terlibat dalam ilmu persilatan yang turut menggunakan tenaga dalaman dan mempelajari ilmu perubatan tradisional Islam. Menurut jangka waktu kononnya "Ma’unah" bermaksud sesuatu yang amat luarbiasa akan berlaku pada golongan sederhana orang Islam (paranormal). Pertubuhan ini dikatakan mempunyai keahlian seramai 1000 ikhwan yang berpusat di Malaysia, Brunei, Singapura, Mesir dan Arab Saudi.

Pengepungan tentera di Sauk

Mohamed Amin bin Mohamed Razali yang merupakan pemimpin kepada 29 ahli kumpulan Al-Ma'unah mengetuai misinya untuk menggulingkan kerajaan Malaysia. Kumpulan ini, termasuk seorang Mejar daripada Tentera Darat Malaysia. Mereka berpakaian pegawai kanan tentera dan berlagak melakukan pemeriksaan mengejut ke atas Kem Batalion 304 Rejimen Askar Wataniah di Empangan Temenggor, Gerik, negeri Perak. Mereka berjaya memperdayakan anggota tentera di situ dan melarikan senjata-senjata di kem tersebut.[2]

Mereka sebelum ini memperolehi maklumat kelemahan sistem keselamatan kem tentera melalui pelbagai jalan keluar dan melindungi tiga unit kenderaan pacuan empat roda Pajero. Kenderaan Pajero yang dikatakan sama digunakan oleh tentera diwarnakan dengan warna hijau dan menggunakan nombor pendaftaran palsu di sebuah garaj rumah di Kati, untuk digunakan khas sebagai kenderaan masuk kumpulan tersebut.

Pada awal pagi 2 Julai 2000, 20 ahli kumpulan Al-Maunah menaiki tiga kenderaan Pajero dan bergerak ke Pos 2 Kem Kuala Rhui pada jam 2.50 pagi dan kemudian ke Kem Bn 304 Rejimen Askar Wataniah pada jam 4.15 pagi.

Mereka berkata kepada pegawai kem tersebut dengan alasan ingin mengadakan pemeriksaan mengejut, dengan memberitahu ingin membuat pemeriksaan kecemasan ke atas jumlah semua peluru yang disimpan di dalam kem tersebut. Atas pelbagai tekanan yang diberi oleh Amin dan orang-orangnya dan diyakinkan oleh kehadiran tiga kenderaan Pajero yang menggunakan nombor pendaftaran tentera yang bermula dengan huruf 'Z', anggota tentera di dua kem tersebut berjaya diperdyakan dengan membawa mereka masuk ke dalam kem tetapi salah satu daripada pelbagai jenis senjata, amunisi dan kelengkapan ketenteraan termasuk peralatan komunikasi dan lain-lain telah membantu kumpulan itu membawa senjata-senjata itu ke dalam tiga Pajero. Mereka berjaya melarikan sejumlah besar senjata api dan imunisasi, iaitu 97 laras raifal M16, dua laras raifal Steyr AUG, empat senjata Mesingan Kegunaan Am (GPMG), enam laras mesingan ringan, lima pelancar bom tangan M203, 182 kelopak M16, lapan laras tambahan mesingan kegunaan am, tiga laras tambahan mesingan ringan, 26 bilah pisau benet, 9,095 butir peluru berkaliber 5.56mm dan 60 butir kartus peluru bom tangan berkaliber 40mm.

27 orang ahli tersebut kemudiannya menyembunyikan diri di dalam hutan Bukit Jenalik, Sauk, negeri Perak. Amin mengagih-agihkan semua senjata-senjata yang dilarikan tersebut kepada orang-orangnya untuk dilatih. Bunyi tembakan yang jarang di dengar oleh penduduk kampong hasil daripada tembakan senjataapi tersebut telah menarik perhatian polis. Kumpulan tersebut membuat persediaan untuk menjayakan rancangan mereka, termasuk mengumpul bekalan makanan dan membawanya ke dalam pengkalan mereka di Bukit Jenalik. Bekalan makanan yang diperolehi itu hanya cukup untuk tiga bulan sahaja. Mereka juga turut memperolehi senjata lain seperti parang dan senjata senapang panah untuk menjayakan misi mereka.

Sepasukan polis dihantar mengepung Bukit Jenalik untuk menyekat pergerakan mereka. Sejumlah anggota pasukan keselamatan dihantar untuk menyusup masuk ke dalam perkhemahan Al-Ma'unah. Walaubagaimanapun, dua anggota polis iaitu Sarjan Mohd Shah bin Ahmad dan Koperal Detektif Sanghadevan, serta penduduk kampung Jaafar bin Puteh dan seorang anggota komando ATM, Truper Matthews anak Medan, telah dijadikan tebusan oleh Al-Ma'unah. Dalam radio komunikasi yang digunakan oleh kumpulan itu, mereka memaklumkan bahawa mereka akan menyerang Kuala Lumpur sekiranya tuntutan ke atas Perdana Menteri Malaysia, Dato’ Seri Dr Mahathir Mohamad untuk meletakkan jawatan dalam masa 24 jam tidak dipenuhi. Jaafar ditangkap ketika beliau sedang meneliti dusun duriannya.

Mohd Shah bin Ahmad menceritakan semasa percubaan selama lebih 4 hari, anggota pasukan keselamatan tersebut telah diseksa dan dianiaya. Mereka dipaksa menggali parit di kawasan Bukit Jenalik untuk dijadikan sebagai kubu pertahanan sekiranya pangkalan mereka diserang. Pada sebelah malam, mereka telah diikat pada pohon durian. Pada masa itu, Mohd Shah dan Sanghadevan mengkebumikan Truper Matthews didalam salah satu parit kubu tersebut. Truper Matthews ditangkap oleh Jemari bin Jusoh dan apabila Amin mengetahui identiti Truper Matthews, Amin menyeksa Matthews dengan menembak kakinya. Amin kemudiannya menyuruh Jemari menembak Truper Matthews.

Pada pagi 5 Julai 2000, seorang anggota Al Ma'unah, Abu Bakar bin Ismail telah ditembak oleh pasukan keselamatan. Sebagai tindak balas, Amin dan rakan-rakannya bertindak membalas tembakan. Semasa tembak-menembak tersebut, Sanghadevan telah ditembak mati. Mayat Sanghadevan kemudiannya dikebumikan bersebelahan Truper Matthews oleh Mohd Shah dan Jaafar.

Serah diri

Kumpulan Al-Ma'unah kemudiannya menyerah diri, dan pemimpin yang dikatakan orang yang mendalangi percubaan untuk "melancarkan pemberontakan menggulingkan Raja". Kerajaan Malaysia bertindak memerangi ahli kumpulan Al-Ma'unah selepas memberi peluang untuk kumpulan tersebut menyerah diri dan menghentikan sebarang percubaan untuk mendapatkan sokongan awam kepada ahli kumpulan Al-Ma'unah dan menyatupadukan mereka kembali kepada masyarakat.

Mohamed Amin kemudiannya menyerah diri. Sebelum itu, beliau yang bersenjatakan raifal M16/M203 telah menarik kolar pakaian Leftenan Jeneral Zaini Mohd Said, komander Tentera Darat Malaysia dan cuba untuk menembaknya dari jarak dekat. Tetapi Zaini bertindak menepis laras senjata Amin dan telah tertembak salah seorang anggota militan. Zaini kemudiannya dianugerahkan pingat Seri Pahlawan Gagah Perkasa (S.P.) atas keberaniannya dan sumbangannya menamatkan keganasan tersebut tanpa mempedulikan nyawa beliau.

Sebenarnya, dua jam sebelum insiden tersebut, ASP Abd Razak bin Mohd Yusoff terlebih dahulu bergerak ke markas tersebut bersama dengan 20 orang anggota pasukan elitnya 69 Komando PGKPDRM menaiki bukit ke arah di Kumpulan Al-Ma'unah berkhemah. Setelah mendapat perlindungan yang sesuai untuk ahli kumpulannya, Abdul Razak bergerak bersendirian menyelinap masuk ke kubu. Dengan sikap berani dan tawakkal, beliau menemui sendiri Ketua Kumpulan Al-Ma'unah iaitu Amin. Maka, berlakulah perbincangan dan perdebatan secara 'ilmiah' antara Abdul Razak dan Amin (perdebatan ini telah dibukukan oleh Abdul Razak) yang mengambil masa selama 2 jam dan akhirnya, ketua kemupulan Al-Ma'unah tersebut bersetuju untuk menyerah diri. Maka, setelah Amin setuju untuk menyerah diri barulah ASP Abdul Razak memanggil Pasukan Leftenan Jeneral Zaini untuk proses perletakkan senjata. Di atas keberanian dan kebijaksanaan berbincang (excellent negotiation skill) Abdul Razak, beliau telah dianugerahi pingat Seri Pahlawan Gagah Perkasa (S.P) atas jasanya. Pada masa itu, Abdul Razak adalah pegawai yang mengetuai pasukan payung terjun polis anti-pengganas 69 Komando PGK Polis Diraja Malaysia.

Kematian

Dianggarkan tiga orang telah terkorban sebelum kumpulan tersebut menyerah diri. Detektif Koperal R. Sanghadevan daripada Cawangan Khas PDRM dibunuh, sebahagiannya mendakwa beliau terbunuh, semasa pengepungan oleh 59 anggota polis dan tentera. Pengganas militan tersebut turut membunuh seorang anggota komando, Truper Mathew anak Medan dari Grup Gerak Khas ATM, yang mana beliau ditembak mati oleh Jemari Jusoh. Kesemuanya diseksa sebelum dibunuh. Orang ketiga yang terbunuh adalah seorang daripada ahli kumpulan tersebut dimana beliau ditembak mati apabila beliau enggan menyerah diri.

Serangan lain

Mohamed Amin turut menghantar rakannya untuk meletupkan kilang minuman keras Anchor dan Carlsberg di Petaling Jaya berhampiran Kuala Lumpur dan kuil Hindu di Batu Caves. Serangan itu menyebabkan hanya kerosakan kecil sahaja. Ahli kumpulan tersebut, Shahidi dan Khairul Anuar, kemudiannya diarahkan untuk meletupkan kilang Carlsberg di pinggir kota Kuala Lumpur dengan senjata pelancar bom tangan yang dirampas daripada kem tentera.

(sumber : Wikipedia)

· * Selepas mengkaji mengenai peristiwa pemberontakan Al-Maunah ke atas Yang Di Pertuan Agong dan Kerajaan Malaysia lebih kurang 10 tahun dahulu, tiba-tiba timbul kebimbangan di hati saya. Malaysia terlalu lemah dari segi pengawasan di kem-kem tenteranya. Masakan 2 buah kem boleh diceroboh pihak militan ini dan senjata yang dilarikan pula dalam kuantiti yang begitu banyak. Isu terkini pula apabila 2 enjin pesawat F-5E milik Tentera Udara Diraja Malaysia boleh hilang. Mengapa kem-kem di Malaysia mudah untuk diceroboh? Pengalaman saya sendiri yang membesar di kem, saya dapat lihat mereka yang ingin melawat sanak-saudara yang tinggal di kem boleh masuk dengan mudah, hanya pemeriksaan ala kadar yang dilakukan. Saya harap kerajaan di bawah pimpinan Dato Seri Najib dapat mengambil iktibar dari apa yang telah berlaku. Jika anda (Kerajaan Barisan Nasional) tidak mampu untuk menjaga keselamatan rakyat, pada siapa lagi rakyat ingin mencari perlindungan. Fikir-fikirkanlah, kerana rakyat berkuasa menentukan pemimpin mereka selepas ini. (^_^)

Ahad, 8 Ogos 2010

JANGAN MUDAH MENUDUH ORANG WAHABI



JANGAN MUDAH MENUDUH ORANG WAHHABI
Dr. Mohd Asri bin Zainul Abidin

Ketika saya dihubungi agar mengulas tentang satu gerakan yang suka menuduh orang lain wahhabi, saya pada mulanya malas nak campur. Di kala negara sedang gelut dengan krisis yang berbagai, ada juga puak yang sibuk wahabi-mewahabi orang lain. Apatah lagi, saya pun dah lama tidak berfikir tentang isu tersebut kerana sibuk dengan isu-isu yang lebih bersifat nasional
dan sejagat.

Sebenarnnya, di negara kita kini sedang muncul satu golongan yang menyembunyikan identitinya. Mereka ini jika di negara Arab digelar Ahbash. Puak ini berpusat di Lubnan dan mempengaruhi sesetengah pelajar kita di sana juga yang di tempat lain. Perkataan ahbash merujuk kepada pengasas dan pengikut mereka yang berketurunan Habsyi Afrika. Guru mereka ialah Abdullah al-Harari. Seorang yang terkenal suka mengkafirkan orang lain yang tidak sependapat dengannya. Dia sentiasa mendakwa bahawa hanya dirinya Ahlussunnah wal Jamaah dan bermazhab Syafi’i. Sesiapa yang tidak bersependapat dengannya itu sesat, atau kafir atau wahhabi. Hasilnya berlakulah pembunuhan dan rusuhan. Mereka telah mengkafirkan ulamaulama terdahulu seperti al-Imam Ibn Taimiyyah, al-Imam Ibn Qayyim, al-Imam al-Zahabi, al-Imam Ibn Kathir, Muhammad bin Abdul Wahhab dan lain-lain. Ulama semasa yang dikafirkan oleh mereka termasuk Dr. Yusuf al-Qaradawi, Dr. Said Ramadhan al-Buthi, Sayyid Sabiq, Sayyid Qutb, al-Albani, Mufti Lubnan Hasan Khalid lain-lain. Sesiapa yang berminat mereka boleh layari bankahbash.blogspot.com. untuk mengetahui sikap ektremis golongan ini.

Di Malaysia, mereka mula menyerap dalam sesetengah pihak berkuasa agama di negeri-negeri tertentu. Mereka menganjurkan program-program atas nama Ahlussunnah wal Jamaah. Isi kandungannya adalah menuduh sesiapa yang tidak sebulu dengan mereka sebagai wahhabi. Slogan mereka sama, sesiapa yang memberikan pendapat yang tidak sama dengan mereka maka dia sesat atau wahhabi. Cara kebetulan pula pandangan sesetengah golongan pembaharuan memang ada perbezaan dengan pandangan agamawan tempatan. Namun, itu bukan kesalahan dan baru. Dahulu pun dalam negara ini ada gerakan kaum muda seperti Za’ba, Syed Syeikh al-Hadi, Burhanudin al-Helmi, Abu Bakar al-Baqir dan selain mereka yang memang diiktiraf sumbangan mereka dalam pembaharuan dan kemerdekaan. Walaupun ada tentangan terhadap kaum muda dari kelompok konservertif tradisionalis melayu, namun buku buku sejarah yang jujur terus mengiktiraf sumbangan kaum muda kepada pendidikan, perjuangan hak wanita, kemajuan pemikiran, pembebasan dari kejumudan dan seumpamanya.

Namun hari ini puak Ahbash yang muncul dan menyelinap masuk dalam masyarakat kita cuba membangkit perkara-perkara perbezaan ini sehingga ke peringkat kafir mengkafir. Kata mereka golongan pembaharuan menimbulkan pecah belah dalam masyarakat. Padahal jika mereka jujur, perpecahan yang sebenar dalam masyarakat melayu sekarang adalah dalam isu-isu politik, bukan isu kenduri arwah, tol orang mati dan joget tarekat yang dipertahankan oleh mereka. Untuk menarik minat masyarakat, mereka menuduh sesiapa sahaja yang memberikan pandangan berbeza itu sebagai wahhabi dan ektremis. Padahal, golongan Ahbash ini menyimpan racun mereka dan menunggu hari untuk dikeluarkan. Tidak hairan jika beberapa pembunuhan di Lubnan dikaitkan dengan mereka dan ramai tokoh yang menganggap mereka mempunyai hubungan dengan CIA. Sebab itu kita melihat pendekatan Ahbash ini ada ala-ala Amerika. Jika Amerika yang mengganas di negara orang, menuduh orang lain pengganas, demikian puak Ahbash ini yang suka mengkafirkan orang lain, tetapi menuduh orang lain pula mengkafirkan dan menumpahkan darah. Maka tidaklah pelik jika guru Ahbash itu digelar al-fattan atau pencetus fitnah.

Di samping, kita juga tidak menafikan, wujudkan segelintir kelompok yang menyandarkan diri kepada salafi kadang-kala ada ciri-ciri agak keras dalam berinteraksi dengan amalan tradisi tempatan atau menimbul beberapa pendapat yang tidak wajar dibesar-besarkan. Saya sendiri kurang bersetuju untuk terlalu bertegas dalam perkara-perkara yang diizinkan syarak untuk kita berbeza pendapat. Namun, kesilapan mereka itu hanya pada pendekatan dan pemilihan keutamaan. Tidak sepatutnya untuk mereka dihukum sesat atau dikafirkan oleh kelompok Ahbash ini.

Namun, jarum Ahbash ini nampaknya ada juga yang terpengaruh lalu menuduh sesiapa sahaja yang berbeza pendapat dengan pandangan mereka sebagai wahhabi. Padahal, jika kita bertanya kepada kebanyakan yang suka melebelkan orang lain sebagai ‘wahabi’; apa itu wahabi?. Mereka pun tak pasti dan berbagai jawapan diberikan. Ada yang katakan wahabi ialah
sesiapa yang tidak qunut subuh. Jika kita beritahu dia, mazhab-mazhab yang lain juga tidak qunut subuh. Apakah al-Imam Ahmad bin Hanbal dan Abu Hanifah juga wahabi? Ada yang kata: wahabi tidak tahlil. Kita beritahu dia tahlil maksudnya La ilah illa Allah, tahmid bermaksud Alhamd li Allah, tasbih bermaksud subhana Allah. Setahu kita mereka ini menyebutnya. Mana
mungkin, jika tidak, mereka kafir. Bahkan imam-imam di Arab Saudi yang dituduh wahhabi itu menghafaz al-Quran dengan begitu hebat dan bacaanbacaan mereka diperdengarkan di sana sini. Adakah mereka kafir?!!. Ada yang kata wahabi adalah mereka yang belajar di Arab Saudi. Ramai yang tidak belajar di Arab Saudi pun ada juga yang menuduh wahabi. Kemudian, kalau wahabi itu sesat, apakah sekarang Masjid al-Haram dan Masjid al-Nabi sedang didiami dan diimami oleh golongan yang sesat?!!. Ada yang kata wahabi ialah golongan tidak bermazhab. Kita beritahu dia Arab Saudi yang sebagai dituduh wahabi bermazhab Hanbali.

Mungkin yang lebih pandai menyebut; wahabi adalah pengikut Muhammad bin ‘Abd al-Wahhab. Dari situ digelar pengikutnya ‘Wahhabi’. Saya katakan saya sendiri dalam pengalaman yang singkat ini ada yang menuduh wahabi, sekalipun saya tidak begitu membaca buku buku Muhammad bin ‘Abd al-Wahhab. Saya hanya menganggapnya salah seorang tokoh-tokoh umat yang ada jasa dan sumbangannya. Dalam masa yang sama ada kekurangan dan kelemahannya. Dia bukan tokoh mazhab fekah yang ulung. Dia sendiri bermazhab Hanbali. Bukan juga jaguh dalam hadis, sehingga al-Albani pernah mengkritiknya dengan agak tegas. Namun, sebagai tokoh, ada sumbangannya yang tersendiri. Dari segi ilmiah, secara peribadi saya tidak dapat banyak manfaat daripadanya. Namun sumbangannya tidak dilupakan. Dr. Yusuf al-Qaradawi dalam bukunya Fiqh al-Aulawiyyat memuji Muhammad bin ‘Abdul Wahhab, dengan berkata: “Bagi al-Imam Muhammad bin ‘Abd al-Wahhab di Jazirah Arab perkara akidah adalah menjadi keutamaannya untuk memelihara benteng tauhid dari syirik yang telah mencemari pancaran tauhid dan dikotori kesuciannya. Beliau telah menulis buku-buku dan risalah-risalah dalam perkara tersebut. Beliau bangkit menanggung bebanan secara dakwah dan praktikal dalam memusnahkan gambaran-gambaran syirik. (m.s. 263, ctk. Maktabah Wahbah, Mesir). Juga tokoh ahli fekah terkenal, Dr. Wahhab al-Zuhaili juga memujinya dengan menyebut: “Sesuatu yang tiada syak padanya, menyedari hakikat yang sebenar, bukan untuk meredhakan sesiapa, berpegang kepada ayat al-Quran yang agung (maksudnya) “Jangan kamu kurangkan manusia apa yang menjadi hak-haknya (Surah Hud: 85), bahawa suara kebenaran yang paling berani, pendakwah terbesar untuk islah (pembaikian), membina umat, jihad dan mengembalikan individu muslim kepada berpegang dengan jalan al-salaf
al-salih yang terbesar ialah dakwah Muhammad bin ‘Abd al-Wahhab pada kurun yang kedua belas hijrah. Tujuannya untuk mentajdidkan kehidupan muslim, setelah secara umum dicemari dengan berbagai khilaf, kekeliruan, bid'ah dan penyelewengan. Maka Muhammad bin ‘Abd al Wahhab ialah pemimpin kebangkitan agama dan pembaikian (islah) yang dinantikan, yang menzahir timbangan akidah yang bersih..” (Rujukan: Dr Wahbah al-Zuhaili, Risalah Mujaddid al-Din fi Qarn al-Thani ‘Asyar, m.s 57-58). Bahkan banyak lagi puji-pujian beliau dalam risalah tersebut. Ramai lagi tokoh-tokoh lain yang memuji Muhammad bin ‘Abd al-Wahhab, apakah tokoh-tokoh agama yang begitu ramai itu patut dituduh wahabi?!!!.

Kitab al-Fiqh al-Manhaji ‘ala Mazhab al-Imam al-Syafi’i tulisan tokoh-tokoh semasa mazhab al-Imam al-Syafi'i , iaitu al-Syeikh Mustafa Khin, al- Syeikh Mustafa al-Bugha dan ‘Ali al-Syarbaji. Namun apabila saya baca antara apa yang disebut dalam kitab tersebut: “Daripada bid'ah apa yang dibuat oleh keluarga si mati ialah dengan mengumpulkan orang ramai kepada makanan dengan munasabah yang dinamakan berlalunya empat puluh hari dan seumpamanya. Sekiranya perbelanjaan makanan tersebut dari harta peninggalan (si mati) dan di kalangan waris ada yang belum baligh, maka itu adalah dari perkara lebih haram. Ini kerana ia memakan harta benda anak yatim dan melenyapkannya bukan untuk kepentingan anak yatim tersebut. Terbabit juga dalam melakukan perbuatan haram ini setiap yang memanggil dan memakannya” (1/263, Damsyik: Dar al-Qalam). Apakah semua penulis itu wahabi?!!.Jika kita tengok kitab-kitab melayu jawi kita dapati perkara yang sama. Kata Syeikh Daud al-Fatani (semoga Allah
merahmatinya) dalam Bughyah al-Talab: “(dan makruh) lagi bid'ah bagi orang yang kematian membuat makanan menserukan segala manusia atas memakan dia sama ada dahulu daripada menanam dia dan kemudian daripadanya seperti yang diadatkan kebanyakan manusia (dan demikian lagi) makruh lagi bid'ah bagi segala yang diserukan dia memperkenankan seruannya” (2/34). Demikian juga kenyataan dibuat oleh al-Syeikh Muhammad Arsyad al-Banjari dalam Sabil al-Muhtadin. Begitu juga al-Marbawi dalam Bahr al-Mazi menyebut: “Maka bid'ah yang tidak elok” (7/130). Apakah mereka semua juga wahabi?!!.

Apabila ada yang memberitahu amalan Nisfu Syaaban seperti yang dibuat oleh masyarakat kita bukan dari tunjuk ajar Nabi s.a.w. Mereka kata: “dia wahabi”. Kita kata ini bukan daripada tulisan Muhammad bin ‘Abd al-Wahhab, ini fatwa Dr Yusuf al-Qaradawi apabila ditanya mengenai nisfu Syaaban, beliau menjawab: “Tidak pernah diriwayatkan daripada Nabi s.a.w. dan para sahabat bahawa mereka berhimpun di masjid untuk menghidupkan malam nisfu Syaaban, membaca do`a tertentu dan solat tertentu seperti yang kita lihat pada sebahagian negeri orang Islam. Bahkan di sebahagian negeri, orang ramai berhimpun pada malam tersebut selepas maghrib di masjid. Mereka membaca surah Yasin dan solat dua raka`at dengan niat panjang umur, dua rakaat yang lain pula dengan niat tidak bergantung kepada manusia, kemudian mereka membaca do`a yang tidak pernah dipetik dari golongan salaf (para sahabah, tabi`in dan tabi’ tabi`in). Ianya satu do`a yang panjang, yang menyanggahi nusus (al-Quran dan Sunnah) juga bercanggahan dan bertentang maknanya...perhimpunan (malam nisfu Syaaban) seperti yang kita lihat dan dengar yang berlaku di sebahagian negeri orang Islam adalah bid`ah dan diada-adakan. Sepatutnya kita melakukan ibadat sekadar yang dinyatakan dalam nas. Segala kebaikan itu ialah mengikut salaf, segala keburukan itu ialah bid`ah golongan selepas mereka, dan setiap yang diadakan-adakan itu bid`ah, dan setiap yang bid`ah itu sesat dan setiap yang sesat itu dalam neraka.( Dr. Yusuf al-Qaradawi, Fatawa Mu`asarah, 1/382-383, Beirut: Dar Uli al-Nuha). Apakah beliau juga wahabi?!!

Al-Imam al-Nawawi (meninggal 676 H) adalah tokoh agung dalam mazhab al-Syafi'i. Pada zamannya, beliau membantah mengiringi jenazah dengan mengangkat suara membaca al-Quran. Beliau berkata: “Ketahui sesungguhnya yang betul lagi terpilih yang menjadi amalan al-salaf al-salih r.a adalah diam ketika mengiringi jenazah. Jangan diangkat suara dengan bacaan, zikir dan selainnya. Hikmahnya nyata, iaitu lebih menenangkan hati dan menghimpunkan fikiran mengenai apa yang berkaitan dengan jenazah. Itulah yang dituntut dalam keadaan tersebut. Inilah yang cara yang betul. Jangan kamu terpengaruh dengan banyaknya orang yang menyanggahinya. Sesungguhnya Abu ‘Ali al-Fudail bin ‘Iyad r.a. pernah berkata –maknanya-:
“Berpegang dengan jalan petunjuk, jangan engkau tewas disebabkan sedikit yang melaluinya. Jauhilah jalan yang sesat. Jangan engkau terpengaruh dengan banyaknya golongan yang rosak”. Adapun apa yang dilakukan oleh golongan jahil di Damsyik, iaitu melanjutkan bacaan al-Quran dan bacaan yang lain ke atas jenazah dan bercakap perkara yang tiada kaitan, ini adalah haram dengan ijma’ ulama. Sesungguhnya aku telah jelaskan Adab al-Qiraah keburukannya, besar keharamannya, dan fasiknya sesiapa yang mampu membantahnya tetapi tidak membantahnya”. (Al-Nawawi, Al-Azkar, m.s. 225- 226, Damsyik: Maktabah al-Ghazali). Saya percaya jika al-Imam al-Nawawi di zaman kini dan buat kenyataan ini, golongan yang taksub pegangan tempatan akan menuduhnya juga wahabi. Apatah lagi jika dia mereka mambaca kenyataan al-Imam al-Nawawi ini menyetujui tokoh-tokoh mazhab al-Syafi’i yang membantah jamuan atau kenduri sempena kematian. Katanya: “adapun menyediakan makanan oleh keluarga si mati dan menghimpunkan orang ramai kepadanya adalah tidak diriwayatkan daripada Nabi s.a.w sedikit pun. Ia adalah bid’ah yang tidak disukai” (Al-Nawawi, al-Majmu’ Syarh al- Mahazzab 5/320 Beirut: Dar al-Fikr). Tentu jika mereka masih hidup akan dituduh wahabi!

Bahkan jika al-Imam al-Syafi’i masih hidup pun mungkin dia dituduh
wahhabi. Apa tidaknya dalam kitabnya al-Umm disebut: “Pendapatku untuk imam dan makmum hendaklah mereka berzikir selepas selesai solat. Hendaklah mereka mensenyapkan zikir, kecuali jika imam mahu dipelajari daripadanya (bacaan-bacaan zikir-pen), maka ketika itu dijelaskan zikir. Sehingga apabila didapati telah dipelajari daripadanya. Maka selepas itu hendaklah dia perlahankan" (al-Syafi'i, Mausu‘at al-Imam al-Syafi'i: Al-Umm, 1/353 Beirut: Dar Ihya al-Turath al-‘Arabi). Tidakkah itu berbeza dengan amalan orang melayu.

Ada kata golongan wahhabi tidak mewajibkan terikat dengan sesuatu mazhab. Saya kata kalau begitu haramkanlah buku Dr. Yusuf al-Qaradawi, Dr Wahbah al-Zuhaili, Dr Abd al-Karim Zaidan dan berbagai tokoh ulama antarabangsa yang lain dari disebarkan di Malaysia ini. Sebab mereka ini yang tidak mewajibkan terikat dengan satu-satu mazhab. Lihat apa kata Dr Yusuf al-Qaradawi: “Perkara yang penting untuk anda mengetahuinya bahawa hukum orang awam mengikut salah seorang imam-imam mazhab ialah harus dengan syarat-syaratnya. Ia bukan sesuatu yang wajib seperti yang dikatakan oleh golongan mutakhir. Ini kerana tiada kewajipan kecuali apa yang diwajibkan oleh al-Kitab dan al-Sunnah. Maka al-Quran dan al-Sunnah tidak mewajibkan seseorang terikat dengan mazhab. Maka tidak menjadi halangan untuk seseorang muslim bebas dari terikat dengan manamana mazhab. Dia boleh bertanya berkaitan agamanya kepada sesiapa sahaja di kalangan ulama. Tanpa perlu terikat dengan seseorang ilmuan sahaja tanpa bertanya orang lain. Inilah jalan para sahabah dan sesiapa yang mengikuti mereka dengan cara yang baik pada zaman sebaik-baik kurun. Allah telah selamatkan mereka dari taklid yang dicerca ini. Sebaik-baik manusia untuk bebas dari terikat dengan mazhab ialah sesiapa yang baru menganut Islam. Maka tiada kepentingan mewajibkannya apa yang Allah ta’ala tidak wajibkan. Dia boleh bertanya sesiapa sahaja dari kalangan ulama yang dia mahu. Wajib ditulis untuk mereka buku-buku fekah yang memudahkan tanpa terikat dengan mazhab tertentu”.( Al-Qaradawi: Dr Yusuf, Kaif Nata’amal Ma’ al-Turath, m.s. 83-84, Kaherah: Maktab Wahbah)

Banyak lagi contoh-contoh lain jika hendak disebut. Maka fahamlah bahawa tuduhan wahabi kepada seseorang di negara kita ini kebanyakan adalah fitnah. Sebagai jawapan kepada persoalan yang tidak terjawab, maka diputarkan isu ke arah yang lain. Ia adalah lambang akhlak dan perilaku buruk pembuatnya. Memburukkan orang lain tanpa bukti dan ilmu. Kesemua mereka ini akan didakwa di akhirat kerana memutar belitkan fakta tanpa rasa takut kepada ALLAH. Tidak pernahkah mereka membaca firman ALLAH dalam Surah al-Hujurat ayat 11-12: (maksudnya) Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah sesuatu puak (dari kaum lelaki) merendah-rendahkan puak lelaki yang lain, (kerana) harus puak yang dicemuhkan itu lebih baik daripada mereka; dan janganlah pula sesuatu puak dari kaum perempuan merendahrendahkan puak perempuan yang lain, (kerana) harus puak yang dicemuhkan
itu lebih baik daripada mereka; dan janganlah setengah kamu menyatakan keaiban setengahnya yang lain; dan janganlah pula kamu panggil-memanggil antara satu dengan yang lain dengan gelaran yang buruk. (Larangan-larangan yang tersebut menyebabkan orang yang melakukannya menjadi fasik, maka) amatlah buruknya sebutan nama fasik (kepada seseorang)
sesudah ia beriman. Dan (ingatlah), sesiapa yang tidak bertaubat (daripada perbuatan fasiknya) maka merekalah orang-orang yang zalim. Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah kebanyakan dari sangkaan kerana sesungguhnya sebahagian dari sangkaan itu adalah dosa; dan janganlah kamu mengintip atau mencari-cari kesalahan dan keaiban orang; dan janganlah setengah kamu mengumpat setengahnya yang lain. Adakah seseorang dari kamu suka memakan daging saudaranya yang telah mati? (Jika demikian keadaan mengumpat) maka sudah tentu kamu jijik kepadanya. (Oleh itu, patuhilah larangan-larangan yang tersebut) dan bertaqwalah kamu kepada Allah; sesungguhnya Allah Penerima taubat, lagi Maha mengasihani.

Adalah malang jika medan perbahasan ilmiah dijadikan medan fitnah memfitnah. Apatah lagi jika yang terlibat itu golongan agama. Kita sepatutnya hanya berada dalam sempadan fakta dan angka sahaja. Jangan terbabas ke peringkat tuduh menuduh secara tidak berakhlak. Ramai
pendakwah yang menjadi mangsa akhlak buruk ini. Kita juga berdukacita dan bersimpati. Apatah lagi jika ahli fitnah memakai nama pihak berkuasa agama. Namun saya katakan kepada para pendakwah yang difitnah; bersabarlah. Telah pun difitnah sebelum ini para rasul yang mulia, sehingga Nabi Muhammad s.a.w dituduh ahli sihir dan gila. Al-Imam al-Syafi'i r.h pernah dituduh sebagai pendokong Syiah di zaman sehingga dia dihukum. Al-Imam Al-Bukhari r.h pernah tuduh sebagai bersefahaman dengan Mu’tazilah mengenai al-Quran, sehingga dia terpaksa keluar dari kampung halamannya. Demikian sejarah dan sirah para ulama kesemuanya tidak sunyi dari mainan golongan yang hasad dan khianat. Demikian tabiat dakwah ini yang sentiasa

Wahai mereka yang suka menuduh orang lain atas sentimen tanpa bukti. Berhentilah, banyak kerja lain yang patut kita buat. Jangan jumud. Sekarang dunia moden, banyak pengetahuan boleh dicari hanya dengan beberapa clik di hadapan internet. Jika kita tidak larat fikir, jangan halang orang lain mencari maklumat dan berfikir. Tunjukkan imej keistimewaan Islam itu dengan mengizin keperbagaian pemikiran hidup dalam iklim yang harmoni selagi tiada penipuan dan pengkhianatan. Dunia fakta hanya dimasuki oleh manusia yang cintakan ilmu. Bukan yang suka mengkafirkan orang tanpa sebab atau menuduh orang wahabi hanya kerana tidak berkenan di hati menuntut keikhlasan dan pengorbanan.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...